Jumat, 07 Desember 2018

Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kebidanan “Kelas Ibu Hamil (Perawatan Kehamilan)”

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KELAS IBU HAMIL(PERAWATAN KEHAMILAN)” sebagai salah satu tugas mata kuliah Organisasi dan Manajemen Pelayana Kebidanan. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan karena kurangnya pengetahuan dan terbatasnya referensi yang kami dapatkan, sehingga kami memerlukan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini memberikan manfaat pengetahuan bagi pembaca.






                                                                        

                                                                                  


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .............................................................................  i
DAFTAR ISI .............................................................................................  ii
BAB I  PENDAHULUAN .......................................................................  1
A.  Latar belakang............................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah ......................................................................  3
C.  Tujuan .........................................................................................  3

BAB II  PEMBAHASAN .........................................................................  4
A.  Kesiapan Psikologis dalam Menghadapi Kehamilan  .................  4
B.  Bagaimana Hubungan Suami Istri / Senggama Selama Hamil ...  4
C.  Obat Yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi
Oleh Ibu Hamil............................................................................ 6
D.  Tanda-tanda Bahaya Kehamilan................................................. 8
E.   Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (p4k) dengan Stiker.............................. 9
BAB III PENUTUP ...................................................................................  10
A.  Kesimpulan .................................................................................  10
B.  Saran ...........................................................................................  11

      DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran (Depkes RI, 2009).
Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 20 minggu s/d 32 minggu dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan (Depkes RI, 2009).
Dalam menjalankan perannya, ibu hamil membutuhkan pengetahuan yang baik tentang kesehatan ibu dan anak, salah satunya melalui pendidikan ibu hamil. Dengan adanya kelas ibu hamil yang merupakan  sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil dalam bentuk tatap muka dan kelompok, maka dapat  meningkatkan pengetahuan, keterampilan ibu-ibu dan keluarga mengenai perawatan kehamilan, persalinan, nifas, penyakit dan komplikasi saat hamil, bersalin dan nifas, perawatan bayi baru lahir, dan senam hamil dengan menggunakan buku KIA.
Kelas hamil memang memiliki banyak keuntungan, baik bagi ibu maupun tenaga kesehatan. Karena melalui kegiatan ini, tidak hanya sekedar menyampaikan materi-materi saja kepada ibu hamil, tetapi juga menciptakan interaksi dan berbagi pengalaman antar ibu hamil maupun antara ibu hamil dengan tenaga kesehatan mengenai kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
Sehingga setelah ibu hamil mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan (perawatan kehamilan, persalinan, nifas, penyakit dan komplikasi saat hamil, bersalin dan nifas, perawatan bayi baru lahir, dan senam hamil) maka akan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil tersebut yaitu adanya perubahan perilaku ibu hamil dan keluarga sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. yang akhirnya dapat berkontribusi terhadap upaya penurunan AKI dan AKB.
Keikutsertaan suami / keluarga dalam kegiatan pelaksanaan kelas ibu hamil dapat memberikan manfaat juga pada ibu hamil. Misalnya, ibu hamil bisa mendapatkan perhatian dari  suami/ keluarga sehingga ibu hamil secara psikologis tidak merasa sendirian karena suami/ keluarga sudah memberikan perhatian dan dukungan yang akan berdampak juga pada kesehatan ibu hamil tersebut.
Selain itu ibu dan keluarganya dapat mempersiapkan diri menghadapi komplikasi (deteksi dini, menentukan orang yang akan membuat keputusan dana kegawatdaruratan, komunikasi, transportasi, donor darah). Jika setiap ibu hamil sudah mempersiapkan diri sebelum terjadi komplikasi maka waktu penyelamatan jiwa tidak akan terbuang ntuk membuat keputusan, mencari transportasi, biaya, donor darah dan sebagainya. Dan dapat membantu setiap ibu hamil dan keluarganya membuat perencanaan persalinan yang meliputi petugas kesehatan yang terampil, tempat bersalin, keuangan, nutrisi yang baik selama hamil, dan perlengkapan esensial untuk ibu dan bayi.
Adanya kelas ibu hamil diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan tentang kehamilan khususnya pada primigravida yang baru pertama kali mengalami kehamilan. Tentunya pada masa kehamilan mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikologi yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu hamil, sehingga dengan adanya kelas ibu hamil  maka ibu hamil yang mengalami berbagai macam perubahan akan merasa nyaman dengan kehamilannya dan tidak merasa cemas.
Namun dalam makalah ini penulis hanya akan membahas salah satu materi dalam kelas ibu hamil yaitu Perawatan kehamilan.

B.     Rumusan masalah

         Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.      Bagaimana kesiapan Psikologis dalam menghadapi Kehamilan ?
2.      Bagaimana Hubungan Suami Istri / Senggama Selama Hamil
3.      Apa Obat Yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi Oleh Ibu Hamil ?
4.      Bagaimana Tanda-tanda Bahaya Kehamilan ?
5.      Bagaimana Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (p4k) dengan Stiker ?

C.    Tujuan
Adapun Tujuan dalam makalah ini adalah
1.      Mengetahui Bagaimana Kesiapan Psikologis dalam Menghadapi Kehamilan
2.      Mengetahui Bagaimana Hubungan Suami Istri / Senggama Selama Hamil
3.      Mengetahui Apa Obat Yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi Oleh Ibu Hamil
4.      Mengetahui Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
5.      Mengetahui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (p4k) dengan Stiker



BAB II
PEMBAHASAN
KELAS IBU HAMIL (PERAWATAN KEHAMILAN)
A.    Kesiapan Psikologis Mengadapi Kehamilan
Kesiapan psikologis adalah saat dimana seorang perempuan dan pasangannya merasa telah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidik anaknya. Menurut penelitian, ibu-ibu yang mengalami problem emosional selama hamil, misalnya depresi, mempengaruhi proses perkembangan otak janin dan membawa dampak pada emosi serta perilaku anak setelah lahir. Kesiapan dan kesehatan psikologis amat penting bagi masing-masing pihak, baik isteri maupun suami. Tentu saja, tidak hanya istri yang perlu kestabilan dan kematangan emosi. Suami pun harus memilikinya. Hal ini perlu dimiliki karena suami dan istri memiliki tanggung jawab yang berat untuk dapat menjalani perannya sebagai orang tua.
Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Keterlibatan suami sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan ibu dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya janin di dalam perutnya.

B.     Hubungan Suami Istri / Senggama Selama Hamil
Kehamilan bukan penghalang aktivitas seksual. Senggama boleh dilakukan selama kehamilan dalam keadaan sehat. Konon, wanita hamil lebih mudah mencapai orgasme ganda. Hal ini terjadi karena berbagai hormon wanita dan hormon kehamilan mengalami peningkatan. Ini menyebabkan perubahan pada sejumlah organ tubuh antara lain, payudara dan organ reproduksi, termasuk vagina sehingga menjadi lebih sensitif dan responsif.
Libido (hasrat seksual) dan keinginan untuk menikmati hubungan intim selama masa kehamilan sangat bervariasi. Umumnya, dorongan seksual agak menurun ditriwulan pertama. Maklumlah perubahan hormon yang menimbulkan mual-mual membuat ibu enggan berhubungan intim. Tapi memasuki triwulan kedua, dorongan seksual wanita hamil akan kembali meningkat, sejalan dengan hilangnya keluhan mual. Libido ini turun kembali di triwulan ke-3 akibat ukuran dan berat janin yang semakin meningkat.

Tidak ada batasan waktu kapan saat tepat untuk bersenggama selama hamil. Asalkan kehamilan dinyatakan tidak memiliki risiko apapun, lakukanlah senggama kapan pun menginginkannya, bahkan sampai menjelang persalinan. Dengan tetap menikmati aktivitas yang satu ini bersama suami, ibu dapat saling berbagi rasa takut maupun kekhawatiran, serta stres yang mungkin muncul selama masa kehamilan.

Jika kehamilan berisiko, misalnya letak plasenta tidak ada pada posisi yang seharusnya (plasenta previa), lebih baik berkonsultasi dulu dengan dokter. Begitu juga apabila ibu mengalami perdarahan ringan, seperti keluarnya flek-flek pada kehamilan triwulan pertama, tunda dulu keinginan untuk melakukan hubungan intim.

Hubungan seksual selama hamil juga bermanfaat sebagai persiapan bagi otot-otot panggul untuk menghadapi proses persalinan kelak.
Setelah melahirkan sebaiknya senggama dilakukan setelah masa nifas (40 hari).
Boleh melakukan hubungan suami istri (Buku KIA halaman 4) tanyakan pada bidan atau dokter tentang hubungan suami istri yang aman selama hamil.
Hubungan suami istri bisa menyebabkan kelahiran muda (prematur) apabila tidak hati-hati, karena sperma mengandung prostaglandin
Pentingnya menjaga kebersihan sebelum dan sesudah melakukan hubungan suami istri untuk mencegah terjadinya infeksi yang dapat berakibat terjadinya kelahiran premature

C.    Obat Yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi Oleh Ibu Hamil
Selama kehamilan, apa yang dikonsumsi oleh ibu akan dikonsumsi pula oleh janin, sehingga jika salah minum obat, akan mengganggu proses tumbuh kembang janin di dalam rahim ibu. Sebelum hamil delapan minggu, ada baiknya ibu tidak minum obat apapun. Kalaupun terpaksa minum obat, perlu ekstra hati-hati.

a)         Berikut beberapa hal yang wajib dilakukan sebelum menelan suatu obat;
Biasakan untuk selalu memberitahu petugas kesehatan bahwa ibu sedang hamil
Jangan segan-segan bertanya apakah obat yang diberikan benar-benar aman bagi ibu hamil atau tidak.
b)        Kalaupun mengkonsumsi obat bebas, seperti obat flu atau batuk, tanyakan dosis aman untuk ibu hamil.
c)         Bila terpaksa mengkonsumsi obat untuk penyakit ibu, tanyakan efek samping obat tersebut terhadap janin.
d)        Berkonsultasilah lebih dulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat-obatan tradisional.

Obat yang relatif aman, meski dianggap cukup aman, sebaiknya obat-obatan ini dikonsumsi setelah usia kehamilan lewat dari sepuluh minggu. Sekalipun obat-obatan di bawah ini dinyatakan tidak berbahaya bagi tumbuh kembang janin, tidak ada salahnya ibu melakukan konsultasi pada dokter terlebih dahulu.

a)         Obat penghilang gejala flu dan obat batuk
b)        Antihistamin/obat alergi
c)         Dekongestan/obat pilek
d)        Kombinasi antihistamin dan dekongestan
e)         Obat penghilang gejala batuk
f)         Obat untuk mengatasi sembelit
g)        Obat penghilang sakit kepala ringan
h)        Obat penghilang rasa pegal-pegal pada tubuh
i)          Obat nyeri ulu hati/maag

Ada juga sederet jenis obat yang tergolong berbahaya untuk dikonsumsi ibu hamil. Sebab, kandungan senyawa di dalamnya dapat mempengaruhi proses tumbuh-kembang janin yang sedang berlangsung.
Inilah jenis obat dan juga terapi yang sebaiknya dihindari.
a)         Ibuprofen : obat penghilang rasa nyeri
b)        Lithium : obat untuk gangguan jiwa
c)         Carbimazole : obat untuk gangguan kelenjar tiroid
d)        Thyroxine : obat untuk gangguan kelenjar tiroid
e)         Warfarin dan jenis obat pembeku darah lainnya
f)         Vaksin untuk cacar, campak Jerman (Rubela), dan sakit kuning
g)        Phenytoin : obat epilepsy
h)        Tetrasiklin : antibiotika
i)          Chloroquin : obat anti malaria
j)          Obat antikanker
k)        Radiasi sinar-X
l)          Beberapa jenis antibiotika tertentu (konsultasikan dengan dokter)
m)      Obat kulit yang mengandung vitamin A


Jangan merokok, memakai narkoba, minum jamu atau minum minuman keras.
Minum obat sesuai petunjuk dokter/bidan
Hindari asap rokok
Merokok, minuman keras, narkoba, jamu dan obat-obatan bisa mengganggu pertumbuhan bayi di dalam kandungan
Buku KIA hal 4

D.    Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan (Buku Kia Halaman 5)
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa kehamilan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya untuk mengenali tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis.
Tanda-tandanya antara lain :
a)      Perdarahan : perdarahan lewat jalan lahir yang jika terjadi pada kehamilan muda dapat menyebabkan keguguran, sedangkan jika terjadi pada kehamilan tua dapat membahayakan keselamatan ibu dan janin dalam kandungan.
b)      Bengkak di kaki, tangan dan wajah, yang disertai sakit kepala hebat. Dapat disertai dengan kejang-kejang. Ini merupakan tanda dan gejala keracunan kehamilan (pre-eklampsia), dapat membahayakan ibu dan janin yang dikandungnya. Tunjukkan caranya untuk mengetahui adanya bengkak pada kaki.
c)      Demam tinggi, biasanya akibat adanya infeksi bakteri atau malaria. Demam dapat membahayakan jiwa ibu, terjadi keguguran atau bayi terlahir kurang bulan.
d)     Keluar air ketuban sebelum waktunya : merupakan tanda adanya gangguan pada kehamilan dan dapat membahayakan janin dalam kandungan. Hal ini ditandai dengan keluarnya cairan lewat kemaluan seperti air kemih namun tidak terasa ingin berkemih.
e)      Gerakan bayi berkurang atau tidak bergerak sama sekali. Hal ini merupakan tanda bahaya pada janin. Gerakan janin diharapkan 10 kali dalam 12 jam saat ibu terjaga.
f)       Ibu muntah terus dan tidak mau makan. Keadaan ini akan membahayakan kesehatan ibu.
g)      Terjadi trauma atau cedera pada perut yang dapat terjadi karena terjatuh, kecelakaan lalu lintas, dll
 Suami atau keluarga harus segera membawa ibu hamil ke bidan/dokter jika ada salah satu tanda bahaya di atas. Suami/Keluarga mendampingi ibu hamil.


E.     Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (p4k) dengan Stiker

Persiapan menghadapi persalinan
Ibu beserta suami dan anggota keluarga yang lain harus sudah merencanakan persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan : menentukan tempat untuk bersalin/melahirkan, menentukan penolong persalinan; menginformasikan riwayat kehamilan, tanda-tanda ibu hamil yang akan bersalin atau melahirkan; dan suami dapat mendampingi selama proses persalinan berlangsung dan mendukung upaya rujukan bila diperlukan.

Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan stiker:
a)         Tanggal taksiran persalinan
Ibu dan suami menanyakan ke bidan/dokter kapan perkiraan tanggal
persalinan.
b)        Tempat dan penolong persalinan
Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong bidan atau dokter (Rencanakan bersalin di Polindes, Puskesmas, Rumah bersalin, Rumah sakit, Rumah bidan atau dirumah).
c)         Tabulin (biaya persalinan)
Suami / keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
d)        Transportasi
Suami dan masyarakat menyiapkan kendaraan jiwa sewaktu-waktu ibu dan bayi perlu segera dirujuk ke rumah sakit.
e)         Calon donor darah
Siapkan calon donor darah jika sewaktu-waktu diperlukan ibu.
f)         Menyiapkan kebutuhan persalinan




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kelas ibu hamil (Perawatan Kehamilan) yaitu tentang :
1.      Kesiapan Psikologis Menghadapi Kehamilan
Kesiapan psikologis adalah saat dimana seorang perempuan dan pasangannya merasa telah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidik anaknya. Menurut penelitian, ibu-ibu yang mengalami problem emosional selama hamil, misalnya depresi, mempengaruhi proses perkembangan otak janin dan membawa dampak pada emosi serta perilaku anak setelah lahir.
2.      Hubungan Suami Istri / Senggama Selama Hamil
Kehamilan bukan penghalang aktivitas seksual. Senggama boleh dilakukan selama kehamilan dalam keadaan sehat. Konon, wanita hamil lebih mudah mencapai orgasme ganda. Hal ini terjadi karena berbagai hormon wanita dan hormon kehamilan mengalami peningkatan. Ini menyebabkan perubahan pada sejumlah organ tubuh antara lain, payudara dan organ reproduksi, termasuk vagina sehingga menjadi lebih sensitif dan responsif.
3.      Obat Yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi Oleh Ibu Hamil
Selama kehamilan, apa yang dikonsumsi oleh ibu akan dikonsumsi pula oleh janin, sehingga jika salah minum obat, akan mengganggu proses tumbuh kembang janin di dalam rahim ibu. Sebelum hamil delapan minggu, ada baiknya ibu tidak minum obat apapun. Kalaupun terpaksa minum obat, perlu ekstra hati-hati
4.      Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan stiker:
Tanggal taksiran persalinan, Tempat dan penolong persalinan, Tabulin (biaya persalinan), Transportasi, Calon donor darah, Menyiapkan kebutuhan persalinan.

B.     Saran
Adanya materi ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan tentang kehamilan khususnya pada primigravida yang baru pertama kali mengalami kehamilan. Tentunya pada masa kehamilan mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikologi yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu hamil, sehingga dengan adanya kelas ibu hamil maka ibu hamil yang mengalami berbagai macam perubahan akan merasa nyaman dengan kehamilannya dan tidak merasa cemas.


DAFTAR PUSTAKA
Ari Sulistyawati. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan.Jakata : Salemba Medika
Depkes RI, 2009. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Depkes RI, 2009. Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil. Jakarta : Departemen Kesehatan
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar